Personal

Ketika Langkah Kaki Harus Berbelok Arah

Siapa sih yang gak mau menjadi seseorang yang sukses?

Yap, di dunia ini pasti semua orang ingin sukses, mungkin arti kata sukses tiap orang berbeda ada yang mengartikan sukses itu menjadi kaya, berjabatan tinggi, memiliki pasangan cantik/tampan, memiliki anak cerdas, ataupun cukup memiliki iman atau bekal untuk akhirat. Perbedaan asumsi ini lah yang sering menjadi masalah, terutama dalam sebuah keluarga ketika salah satu anggota keluarga memiliki asumsi kesuksesan yang berbeda dengan anggota keluarga lainnya.

Setiap manusia memiliki keinginan untuk menjadi sesuatu yang dianggapnya sebuah kesuksesan atau pencapaian dalam hidupnya. Tapi apa jadinya ketika keinginan tidak sesuai dengan kenyataan? ketika harapan harus tersandung sebuah keinginan seseorang?

Setiap manusia memiliki impian untuk mencapai kesuksesan, namun mungkin sebagian dari mereka ada yang bersemangat dalam mengejarnya ada pula yang sudah menyerah di tengah perjalanan bahkan ada pula sebelum memulai langkahnya.

Disini, saya hanya berbagi apa yang ada di kepala saya mengenai apa yang saya lalui, apa yang saya amati dan apa yang saya pelajari dari setiap langkah kaki saya selama 25 tahun ini. Selama ini saya bertemu berbagai macam orang dengan keanekaragaman karekter dan latar belakang kehidupannya. Entahlah saya selalu ingin tahu apa-apa yang menjadikan seseorang memiliki karakter A-Z tidak jarang juga saya melampaui batas seperti ingin tahu permasalahan seseorang dan so jadi pahlawan dengan mencarikannya solusi yang bahkan saya hanya bisa berucap doang.

Bukan hal yang mudah menjadi seseorang yang terlalu memikirkan perasaan orang lain dan melakukan sesuatu yang dipikirannya merupakan sebuah solusi, padahal malah makin membuat situasi makin rumit bagi orang lain bahkan terlebih lagi bagi dirinya sendiri. Awalnya saya tidak mau menulis mengenai hal ini, namun beberapa hari lalu saya bertemu seorang anak penjual pisang coklat (piscok) dan anak tersebut terus menjadi pikiran saya.

Seperti manusia lainnya, anak penjual piscok pun memiliki keinginan untuk menjadi seseorang yang sukses. Anak itu ingin sekali menjadi seorang dokter, alasannya simple dia ingin menjadi kaya. Untuk kalian yang baca mungkin akan berpikir menjadi dokter itu sulit, tapi yang ada dipikiran anak itu bukan sekedar sulit tapi mustahil. Dia saat ini hampir satu tahun tidak sekolah. Sebelum bulan ramdhan tahun lalu dia memutuskan meninggalkan kampung halaman tempatnya bersekolah dan datang ke Bandung untuk membantu perekonomian keluarganya.

Apa yang ada di benak kalian saat melihat anak jalanan yang putus sekolah?

Apa yang ada di benak pemerintah saat melihat anak jalanan yang putus sekolah?

Tidak mengasihaninya?

Tidak memberinya uang agar menghentikannya dalam mencari uang di jalanan?

Kalian mungkin tidak memberinya karena takut menjadi kebiasaannya untuk meminta-minta dan jadi pemalas ya kan? Tapi bagi saya mereka tidaklah seorang pemalas, jika mereka malas mereka tidak akan ada di jalanan yang terik untuk mencari uang. Mungkin saja mereka tidak memiliki pilihan lain. Ya sangat memungkinkan mereka tidak mendapatkan pekerjaan dan sebagai manusia harus tetap makan. Mungkin ada yang memiliki penghasilan besar dari jalanan dan apakah mereka salah? Apa yang mereka ketahui lagi untuk tetap mendapatkan penghasilan? Berbisnis? Apa yang mereka tahu tentang bisnis? Mereka mungkin hanya tahu bahwa kesuksesan mereka itu didapatkan dengan berada di jalan, lalu kita menyalahkan entah iri kepada mereka karena penghasilan mereka yang besar padahal kita tidak memberi solusi apapun dengan mencarikan dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Mungkin memang mereka menghasilkan banyak uang tapi uang akan habis suatu saat nanti dan itulah yang mengembalikannya tetap ke jalan.

Saya tidak mendukung anak-anak untuk putus sekolah. Saya justru sangat ingin melihat mereka sekolah, termasuk anak penjual piscok terlebih lagi saya tahu cita-citanya ingin menjadi dokter. Tapi apa yang bisa dia lakukan dengan situasi dan kondisinya yang berbeda dengan kita? Bukan hanya masalah biaya sekolah lagi yang menjadi masalahnya karena saat ini dia seharusnya kelas 8 SMP yang didanai BOS. Namun, dibalik semua solusi dari pemerintah itu ada hal yang tetap menghentikan langkahnya untuk mencapai kesuksesannya menjadi seorang dokter.

Sederhana saja, ketika saya bertemu anak-anak putus sekolah dan berjualan atau mengamen di jalanan saya tetap memberikannya uang dan selalu meminta mereka tetap sekolah. Bagaimana pun pendidikan yang bisa mengubah jalan hidup mereka, itulah solusi yang saya simpulkan sendiri. Bagi saya juga mungkin bagi kalian yang baca. Sekolah itu perihal mudah, tinggal menyisakan waktu dalam sehari untuk bangun pagi kemudian berangkat ke sekolah dan mendengarkan guru berbicara di depan kelas. Waktu yang dimiliki setiap manusia sama 24 jam, hanya saja sebagian dari manusia ada yang mungkin memerlukan waktu tambahan. Ya, anak-anak itu butuh waktu yang lebih jika mereka harus sekolah. Ijinkan saya berpendapat bahwa dana BOS belum menjadi solusi bagi sebagian anak-anak putus sekolah. Saya tidak tahu apakah pemerintah mengetahui permasalahan anak putus sekolah atau tidak.

Jika mereka tidak tahu semoga tulisan ini bisa dibaca dan diketahui para pemangku kebijakan. Jika mereka sudah tahu semoga…

Semoga mereka memang tidak tahu…

Kembali ke kisah anak penjual piscok tersebut…

Saya sebenarnya sering bertemu dia, pertemuan pertama di kantin kampus saya. Dia menawarkan piscok dan saya bertanya kepadanya apa yang membuatnya harus berjualan dan tidak sekolah. Saat itu saya memintanya untuk tetap sekolah dan berjualan setelah itu. Namun ya permintaan saya sudah pasti diabaikan. Bodohnya, saya kemudian kecewa saat saya melihatnya tetap berjualan di jam sekolah dan akhirnya saya tidak lagi membeli piscoknya karena saya takut malah menjadi ‘kebiasaan’ seperti yang orang lain pikirkan. Saya terus menghindarinya bahkan saat berpapasan dan sedih rasanya ketika dia memanggil saya untu menawarkan piscoknya sedangkan saya hanya tersenyum dan mengabaikannya. Saya kira dengan sikap saya yang berubah akan mengembalikannya ke sekolah. Namun lama-lama dia tidak lagi menawarkannya kepada saya lagi bahkan tertunduk dan berpura-pura tidak melihat saya setiap kali berpapasan.

Suatu hari saya mengikuti lomba jurnastik di kampus saya dan tanpa sengaja saya melihat anak itu lewat. Kemudian saya menjadikannya objek dalam lomba itu. Sebetulnya saya kira itu tidak menjadi masalah karena saya sebelumnya sudah tahu bahwa dia anak putus sekolah untuk mencari uang dan membantu keluarganya. Sebetulnya saya tidak tega untuk menjadikannya objek tapi saya ingin bertanya mengapa dia masih saja jualan padahal saya sudah memintanya sekolah. Dalam wawancara itu setidaknya saya menjadi tahu bahwa masalah yang dialami anak putus sekolah itu bukan hanya sekedar ekonomi namun melibatkan batin yang tertekan. Saat itu dia menyampaikan keinginannya untuk sekolah lagi. Namun ada satu hal yang menyebabkan saya berhenti bertanya karena saya belum mendapatkan solusi untuk itu, bahkan saya sendiri pernah gagal dalam menghadapi masalah itu. Masalah yang mungkin tidak berat bagi yang terlahir kaya raya.

Masalah ditinggalkan sang pencari nafkah bukan hal yang sederhana, apalagi di usianya yang masih dibawah umur. Masalah itu justru terasa lebih mudah jika sang pencari nafkah meninggalkan keluarganya karena dipanggil Allah. Tapi bagaimana jadinya jika sang pencari nafkah meninggalkan anak dan istrinya tiba-tiba entah kemana, bahkan bercerai dengan istrinya pun tidak sempat. Itulah yang saya katakan tidak hanya melibatkan ekonomi, namun juga batin. Sebagai anak yang baik tentu dia akan membantu ibu dan adiknya untuk mencari nafkah menggantikan ayahnya. Hal yang membuat saya diam yaitu saat dia berkata:

“Sebetulnya saya ingin sekolah, tapi kalau saya sekolah berarti saya egois, hanya memikirkan diri saya sendiri, gimana dengan ibu dan adik-adik saya?”

Saat itu saya diam, saya tidak memiliki solusi saat itu. Sampai saat ini saya masih memikirkan solusi yang tepat, bukan hanya tepat tapi bisa saya lakukan untuk anak-anak seperti mereka. Untuk hal seperti ini bukan lagi teori yang diberikan kepada mereka tapi aksi nyata yang benar-benar mengubah jalan hidupnya agar bisa tetap melangkahkan kaki mereka ke tujuan kesuksesannya seperti menjadi seorang dokter. Untuk hal itu, bahkan saya pun pernah gagal dalam menghapinya yang kemudian langkah kehidupan saya harus berbelok dari apa yang saya inginkan dan rencanakan. Hal ini sulit karena kita hanya bisa merencanakannya saja sisanya Allah lah yang menentukan.

Nah sekarang saya mau nanya nih,

Menurutmu apa yang lebih penting dari hidup ini jika kita di hadapkan dengan dua pilihan antara mencapai kesuksesan atau bertahan hidup?

 

Semoga tulisan ini menjadi sebuah manfaat bahkan evaluasi untuk diri kita dan juga pemerintah, karena keadilan sosial itu masih berlaku bagi seluruh rakyat Indonesia.

Advertisements

One thought on “Ketika Langkah Kaki Harus Berbelok Arah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s