Personal

#TheHijabStory – Hijab Vs Pacaran

Oke sebelum masuk ke story nya saya mau mengganti kata “gue” jadi saya/aku ya. Gak tau kenapa deh emang lebih nyaman aja manggil diri sendiri saya atau aku. hehehe

Perlu ditegaskan ya aku ini bukan seorang muslimah yang paham agama tapi aku tau mana yang baik mana yang buruk, aku tau ajaran agama dari ceramah-ceramah aja. Jadi maaf banget kalau ada yang gak sependapat aku cuma beropini mengenai apa-apa yang sampai saat ini ada dipikiranku.

Mungkin udah bukan rahasia umum ya kan di Indonesia masih banyak muslimah yang gak berhijab, juga muslimah yang berhijab tapi masih pacaran. Menurutmu mana yang lebih baik? Yap, dua duanya memang menyalahi aturan Allah ya kan?

Aku sih agak gak ngerti sama yang berhijab tapi masih pacaran, dari dulu (saat aku belum berhijab) sampai sekarang (saat aku mulai belajar berhijab). Aku gak ngerti karena logika aku bilang gini, bukankah Allah mengatur wanita untuk berhijab itu karena ingin melindungi wanita kan? Allah menjaga wanita dengan hijabnya dari pandangan ‘buruk’ dan nafsu lelaki yang bukan muhrimnya ya kan?

Lalu bagaimana jadinya jika wanita berhijab berpacaran? mungkin dia terjaga dengan pakaiannya, bagaimana dengan sentuhan tangannya? bagaimana dengan pandangannya? yang dilakukan lebih intens dibanding hanya berteman? Apalagi pacaran itu melibatkan rasa cinta. Belum lagi rasa cinta itu melibatkan lima hormon dalam tubuh kita yaitu dopamin, endorfin, feromon, oxytocin, neuropinephri.

Hormon yang paling “berbahaya” saat berpacaran menurutku itu hormon feromon dan oxytocin. Dimana berdasarkan sumber yang saya baca bahwa hormon feromon bekerja sebagai pemicu atau inisiator dalam reaksi-reaksi kimia hingga mengakibatkan rasa ketertarikan antara dua orang berlainan jenis. Prosesnya adalah ketika dua orang berdekatan dan bertatapan mata, maka feromon yang kasat mata dan volatil, akan tercium oleh organ tubuh manusia yang paling sensitif yaitu vomeronasalorgan (VNO) yaitu organ dalam lubang hidung yang mempunyai kepekaan ribuan kali lebih besar daripada indera penciuman. Hormon ini juga yang bertanggungjawab banyak pasangan haram berzina. Sedangkan hormon oxytocin mempunyai efek ingin selalu dekat dengan pasangan, seperti dipeluk, dicium, dll. Hormon ini juga dapat menghilangkan rasa malu dan menjadi pencemburu bahkan bisa berakhir perang.

Jadi saya kira se-sehat-sehatnya berpacaran cepat atau lambar hasrat untuk minimal “berciuman” itu akan muncul. Oleh karena itu Allah melarang kita untuk berpacaran juga karena menjaga kita dari zina yang akan merugikan kita di akhirat nanti.

Saya pernah pacaran ketika saya belum berhijab, namun selalu berakhir buruk dan menyakiti diri sendiri dan saya kapok. Namun dengan logika saya yang “harusnya yang berhijab gak pacaran” itu membuat saya berhijab, ya karena saya gak mau pacaran makanya berhijab. Konyol sih tapi ya gimana lagi ya namanya juga otak cetek ilmu agama pun ga mempuni 😦

Saya tau alasan berpacaran sebagian besar tuh karena ingin tau sifatnya kebiasaannya agar nanti ketika menikah tidak menyesal dan sudah mengenali satu sama lain kan? Apakah hal tersebut tidak bisa dilakukan dengan berteman? Teman yang baik akan menerima kita apa adanya dibandingkan dengan ketika pacaran, saat pacaran mungkin jatuh cintanya hanya didasarkan pada kebaikan-kebaikannya saja, ketika tau keburukannya lah yang mungkin banyak mengakibatkan putus dan sakit hati.

Padahal tujuan menikah di dunia itu kan (kalau gak salah) untuk menyempurnakan ibadah. Ya memang didasarkan dengan cinta. Tapi kan Allah sudah menyiapkan jalan untuk bertemu jodoh kita? Apakah yang berpacaran dan berhijab itu tidak percaya dengan apa yang ditulis Allah? Mengapa kita susah payah mencari cinta padahal Allah sudah menuliskan jodoh untuk kita? Mengapa kita dengan sengaja mendekati apa apa yang Allah jauhkan dari kita?

Dear teman-teman berhijab,

Bagiku berhijab itu lebih sulit dari menahan diri untuk berpacaran. Kalian sudah benar dengan hijab yang lebih baik dari hijabku. Menurutku lebih baik kita sama-sama memperbaiki dan menyiapkan diri untuk menyambut jodoh kita yang entah kapan dipertemukan, bisa cepat juga bisa lambat. Sesungguhnya Allah Maha Tahu yang terbaik untuk kita bukan? Jangan khawatir… Allah sudah menjanjikan wanita baik untuk laki-laki baik dengan fiman-Nya:

“Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik. (QS. An Nur : 26)

Jadi, apakah kamu ragu dengan firman Allah sehingga kamu khawatir jodoh kamu salah dan harus melalui tahap pacaran? Padahal kita bisa mengenalinya dengan hanya berteman dan dengan cara islam yaitu taaruf, khitbah, dan nikah. Tapi sebelum itu apa kita sudah siap menikah? jika belum siap, mengapa harus pacaran? Apa tujuan pacaran menurutmu jika bukan untuk menikah? Na’udzubillah Min Dzalik semoga kita para wanita berhijab dijauhkan dari para lelaki yang memiliki niat buruk..

Menurutku berhijab tapi berpacaran sama saja dengan tidak berhijab tapi tidak pacaran. Ya, sama sama tidak mengikuti ajaran Allah, sama sama tidak mau dijaga oleh Allah.

Tulisan hanya opini saya ya, maaf banget kalau tulisan ini menyinggung banyak orang. Menyinggung teman-teman baik saya pun. Maaf banget ya…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s